Diduga memiliki paspor palsu, seorang warga negara (WN) Sri Langka dan WN India ditangkap petugas Imigrasi Kelas 1, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Keduanya ditangkap saat akan meninggalkan Indonesia melalui Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

“Seorang WN Sri Langka berinisial DB dan seorang WN India berinisial VT,” ujar Kepala Kantor Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta, Alif Suadi, Kamis (15/09).

Menurut pengakuan keduanya, paspor mereka diurus oleh satu orang dari agen biro perjalanan yang telah dimasukkan ke dalam DPO. Kini, pelaku dalam pengejaran petugas Imigrasi.

“Dari hasil pemeriksaan petugas, VT mengaku bahwa cap keimigrasian diurus oleh seorang agen bernama Selvamani yang masih berstatus DPO,” katanya.

VT yang merupakan warga negara India bermaksud keluar dari wilayah Indonesia pada tanggal 11 Juli 2016 dengan menggunakan pesawat AirAsia AK387 tujuan Kuala Lumpur, Malaysia. Saat di Terminal 3 Keberangkatan Bandara Soetta, VT ditangkap dan ditahan sejak 19 Juli 2016.

Dari tangan VT, petugas mengamankan barang bukti paspor India, satu lembar visa palsu dan satu lembar boarding pass maskapai AirAsia AK387. Sedangkan DB yang merupakan warga negara Sri Lanka ditangkap karena diduga menggunakan paspor India atau paspor palsu dengan inisial CH untuk keluar wilayah Indonesia pada 23 Juli 2016.

“Setelah diperoleh kepastian bahwa paspor kebangsaan India atas nama CH yang digunakan oleh DB adalah palsu, DB kemudian ditangkap dan ditahan sejak 9 Agustus 2016,” jelas Alif.

Dari hasil pemeriksaan petugas, DB mengakui bahwa paspor India tersebut diperolehnya dari seorang agen bernama Mohan yang berstatus DPO dengan membayar USD 27.000.

“Dari hasil pemeriksaan data perlintasan, diketahui DB memasuki wilayah Indonesia pada tanggal 17 Juni 2016 dengan menggunakan paspor kebangsaan Sri Lanka miliknya. Namun yang bersangkutan menggunakan paspor kebangsaan India (palsu) untuk keluar wilayah Indonesia,” tegasnya.

Dari tangan DB, petugas mengamankan barang bukti satu paspor India palsu, satu buah paspor Sri Lanka, dan satu kartu identitas karyawan IBM diduga palsu. Kedua WNA tersebut kini ditahan di ruang detensi Kantor Imigrasi Bandara Soetta.

“Saat ini berkas penyidikan terhadap VT dan DB telah dinyatakan lengkap oleh JPU Kejaksaan Negeri Tangerang, dan dijadwalkan untuk proses penyerahan tersangka dan barang bukti kepada Kejari Tangerang,” ujarnya.

Atas perbuatannya, VT dan DB diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 500 juta sesuai dengan UU RI No. 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

Dari : Ditjen Imigrasi

Sumber : Merdeka.com